Minggu, 26 Oktober 2014

PENGORGANISASIAN DAN STRUKTUR ORGANISASI



 PENGORGANISASIAN DAN STRUKTUR ORGANISASI


A.    DEFINISI PENGORGANISASIAN
Pengorganisasian (organizing) merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang di milikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Aspek utama proses penyusunan organisasi adalah patementalisasi dan pembagian kerja.
B.     PENGORGANISASIAN SEBAGAI FUNGSI MANAJEMEN
Organisasi atau prngorganisasian dapat dirumuskan sehingga keseluruhan aktivtas manajemen di dalam mekelompokkan orang-orang serta penetapan tugas, fungsi, wewnang, serta tanggung jawab masing-masing dengan tujuan tercapainya aktifitas-aktifitas manajemen yang sebelumnya telah ditentukan terlebih dahulu.

ACTIVATING DALAM MANAJEMEN

A.    DEFINISI ACTUATING

George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.
Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.

B.     PENTINGNYA ACTUATING
Actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi sumber daya manusia dan nonmanusia pada pelaksanaan tugas. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan. 

C.     PRINSIP ACTUATING
                                                            
Menurut Kurniawan (2009) prinsip-prinsip dalam penggerakan/actuating antara lain:
·         Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya.
·         Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia.
·         Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi.
·         Menghargai hasil yang baik dan sempurna.
·         Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih.
·         Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup.
·         Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya.

MENGENDALIKAN FUNGSI MANAJEMEN

A.    DEFINISI KONTROLING
Kendali, sering juga disebut Pengawasan, Controlling atau, sering juga disebut pengendalian adalah satu diantara beberapa fungsi manajemen berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan tujuan yang telah digariskan semula. Bila ditinjau dari proses, maka proses itu adalah proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan bisa berjalan sesuai target yang diharapkan.
Pengawasan merupakan tindakan seorang manejer untuk menilai dan mengendalikan jalan suatu kegiatan yang mengarah demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan

B.     LANGKAH-LANGKAH DALAM KOTROLING
1.      Mengidentifikasikan tujuan dan strategi
2.      Penyusunan program
3.      Penyusunan anggaran
4.      Kegiatan dan pengumpulan realisasi prestasi
5.      Pengukuran prestasi
6.      Analisis dan pelaporan
7.      Tindakan koreksi



C.     KONTROLING SEBAGAI FUNGSI MANAJEMEN
1.      Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan
2.      Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin di temukan
3.      Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis


MOTIVASI

A.    DEFINISI MOTIVASI
Motif seringkali di istilahkan sebagai dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat, sehingga motif tersebut merupakan driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku dan didalam perbuatannya itu mempunyai tujuan tertentu (Moch. As’ad, 1995: 45). Motivasi secara sederhana dapat diartikan “Motivating” yang secara implisit berarti bahwa pimpinan suatu organisasi berada di tengah-tengah bawahannya, dengan demikian dapat memberikan bimbingan, instruksi, nasehat dan koreksi jika diperlukan (Siagian, 1985: 129). Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa motivasi adalah keinginan yang terdapat pada seorang individu yang merangsang untuk melakukan tindakan (Winardi, 2000: 312). Motivasi adalah dorongan yang ada dalam diri manusia yang menyebabkan ia melakukan sesuatu (Wursanto, 1987: 132). Dalam kehidupan manusia selalu mengadakan bermacam-macam aktifitas. Salah satu aktivitas itu diwujudkan dalam gerakan-gerakan yang dinamakan kerja.

                                                     
B.     DEFINISI MOTIVASI KERJA
Marihot AMH Manulang dalam buku Manajemen Personalia (2006:165) berpendapat, istilah motif sama dengan kata-kata motive, motip, dorongan, alasan dan driving force. Motif tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia bertindak. The Liang Gie berpendapat bahwa motive atau dorongan batin adalah suatu dorongan yang menjadi pangkal seseorang melakukan sesuatu atau bekerja. Menurut arti katanya, motivasi atau motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Sedangkan pengertian dari motivasi kerja adalah pendorong semangat kerja.



C.     TEORI-TEORI MOTIVASI

Teori Motivasi menurut Abraham Maslow Setiap manusia mempunyai needs (kebutuhan, dorongan, intrinsic dan extrinsic factor), yang pemunculannya sangat tergantung dari 15 kepentingan individu. Dengan kenyataan ini, kemudian A. Maslow (Siagian, 1996: 149) membuat needs hierarchy theory untuk menjawab tentang tingkatan kebutuhan manusia tersebut. Kebutuhan manusia diklasifikasi menjadi lima hierarki kebutuhan yaitu :

1.       Kebutuhan Fisiologis ( Physiological Needs ).
Perwujudan dari kebutuhan fisiologis   adalah  kebutuhan pokok manusia yaitu sandang, pangan, papan, dan kesejahteraan individu. Kebutuhan ini dipandang sebagai kebutuhan yang paling mendasar, karena tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut, seseorang tidak dapat dikatakan hidup normal. Meningkatnya kemampuan seseorang cenderung mereka berusaha meningkatkan pemuas kebutuhan dengan pergeseran dari kuntitatif ke kualitatif. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang amat primer, karena kebutuhan ini telah ada dan terasa sejak manusia dilahirkan. Misalnya dalam hal sandang. Apabila tingkat kemampuan seseorang masih rendah, kebutuhan akan sandang akan dipuaskan sekedarnya saja. Jumlahnya terbatas dan mutunya pun belum mendapat perhatian utama karena kemampuan untuk itu memang masih terbatas. Akan tetapi bila kemampuan seseorang meningkat, pemuas akan kebutuhan sandang pun akan ditingkatkan, baik sisi jumlah maupun mutunya. Demikian pula dengan pangan, seseorang dalam hal ini guru yang ekonominya masih rendah, kebutuhan pangan biasanya masih sangat sederhana. Akan tetapi jika kemampuan ekonominya meningkat, maka pemuas kebutuhan akan pangan pun akan meningkat. Hal serupa dengan kebutuhan akan papan/perumahan. Kemampuan ekonomi seseorang akan mendorongnya untuk memikirkan pemuas kebutuhan perumahan dengan pendekatan kuantitiatif dan kualitatif sekaligus.
2.       Kebutuhan Rasa Aman ( Safety Needs )
Kebutuhan keamanan harus dilihat dalam arti luas, tidak hanya diartikan dalam arti  keamanan fisik semata, tetapi juga keamanan psikologis dan perlakuan yang adil dalam pekerjaan. Karena pemuas kebutuhan ini terutama dikaitkan dengan kekaryaan seseorang, artinya keamanan dalam arti fisik termasuk keamanan seseorang didaerah tempat tinggal, dalam perjalanan menuju ke tempat bekerja, dan keamanan di tempat kerja.

3.       Kebutuhan Sosial ( Social Needs )
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial, tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan pasti memerlukan bantuan orang lain, sehingga mereka harus berinteraksi dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan sosial tercermin dalam empat bentuk perasaan yaitu:
a. Kebutuhan akan perasaaan diterima orang lain dengan siapa ia bergaul dan berinteraksi dalam organisasi dan demikian ia memiliki sense of belonging yang tinggi.
b. Harus diterima sebagai kenyataan bahwa setiap orang mempunyai jati diri yang khas dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan jati dirinya itu, setiap manusia merasa dirinya penting, artinya ia memiliki sense of importance..
c. Kebutuhan akan perasaan maju dan tidak akan gagal sering disebut sense of accomplishment. Tidak ada orang yang merasa senang apabila ia menemui kegagalan, sebaliknya, ia senang apabila ia menemui keberhasilan.
d. Kebutuhan akan perasaan diikutsertakan ( sense of participation ). Kebutuhan ini sangat terasa dalam hal pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan tugas sendiri. Sudah barang tentu bentuk dari partisipasi itu dapat beraneka ragam seperti dikonsultasikan, diminta memberikan informasi, didorong memberikan saran.
4. Kebutuhan akan Harga Diri ( Esteem Needs )Semua orang memerlukan pengakuan atas keberadaan statusnya oleh orang lain. Situasi yang ideal adalah apabila prestise itu timbul akan menjadikan prestasi seseorang. Akan tetapi tidak selalu demikian, karena dalam hal ini semakin tinggi kedudukan seseorang, maka akan semakin banyak hal yang digunakan sebagai simbol statusnya itu. Dalam kehidupan organisasi banyak fasilitas yang diperoleh seseorang dari organisasi untuk menunjukkan kedudukan statusnya dalam organisasi. Pengalaman menunjukkan bahwa baik dimasyarakat yang masih tradisional maupun di lingkungan masyarakat yang sudah maju, simbol – simbol status tersebut tetap mempunyai makna penting dalam kehidupan berorganisasi.
5. Aktualisasi Diri (Self Actualization ). Hal ini dapat diartikan bahwa dalam diri seseorang terdapat kemampuan yang perlu dikembangkan, sehingga dapat memberikan sumbangsih yang besar terhadap kepentingan organisasi. Melalui kemampuan kerja yang semakin meningkat akan semakin mampu memuaskan berbagai kebutuhannya dan pada tingkatan ini orang cenderung untuk selalu mengembangkan diri serta berbuat yang lebih baik.


KEPUASAN KERJA

A.    DEFINISI KEPUASAN KERJA
Newstrom : mengemukakan bahwa “job satisfaction is the favorableness or unfavorableness with employes view their work”. Kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang dialami [pegawai] dalam bekerja. Wexley dan Yulk : mengartikan kepuasan kerja sebagai “the way an employee feels about his or her job”. Artinya bahwa kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya. dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upaya, kesempatan pengembangan karier, hubungan dengan pegawai lain, penempatan kerja, dan struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan dirinya antara lain berupa umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pendidikan.mengartikan kepuasan kerja sebagai “the way an employee feels about his or her job”. Artinya bahwa kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya. dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upaya, kesempatan pengembangan karier, hubungan dengan pegawai lain, penempatan kerja, dan struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan dirinya antara lain berupa umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pendidikan.

B.     ASPEK-ASPEK KEPUASAN KERJA

1.      Kerja yang secara mental menantang,Kebanyakan Karyawan menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik mereka mengerjakan. Karakteristik ini membuat kerja secara mental menantang. Pekerjaan yang terlalu kurang menantang menciptakan kebosanan, tetapi terlalu banyak menantang menciptakan frustasi dan perasaan gagal. Pada kondisi tantangan yang sedang, kebanyakan karyawan akan mengalamai kesenangan dan kepuasan.
2.      Ganjaran yang pantas, Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka persepsikan sebagai adil,dan segaris dengan pengharapan mereka. Pemberian upah yang baik didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. tidak semua orang mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima baik uang yang lebih kecil untuk bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang mereka lakukan dan jam-jam kerja. Tetapi kunci yang manakutkan upah dengan kepuasan bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan; yang lebih penting adalah persepsi keadilan. Serupa pula karyawan berusaha mendapatkan kebijakan dan praktik promosi yang lebih banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara yang adil (fair and just) kemungkinan besar akan mengalami kepuasan dari pekerjaan mereka.
3.      Kondisi kerja yang mendukung,Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai keadaan sekitar fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan. Temperatur (suhu), cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain seharusnya tidak esktrem (terlalu banyak atau sedikit).
4.      Rekan kerja yang mendukung, Orang-orang mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan sosial. Oleh karena itu bila mempunyai rekan sekerja yang ramah dan menyenagkan dapat menciptakan kepuasan kerja yang meningkat. Tetapi Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan.
5.      Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan, Pada hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya kongruen (sama dan sebangun) dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mendapatkan bahwa mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan karena sukses ini, mempunyai kebolehjadian yang lebih besar untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari dalam kerja mereka.


C.     FAKTOR PENENTU KEPUASAN KERJA
·         (Levi,2002) lima aspek yang terdapat dalam kepuasan kerja, yaitu :
1.      Pekerjaan itu sendiri (Work It self),Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
2.      Atasan(Supervision), atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.
3.      Teman sekerja (Workers), Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
4.      Promosi(Promotion),Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karier selama bekerja.
5.      Gaji/Upah(Pay), Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak.




Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kepuasan_Kerja
http://nonvivit.blogspot.com/2013/10/definisi-mengendalikan-controlling-dan.html






Senin, 13 Oktober 2014

TULISAN PERTEMUAN I

Kasus Kekerasan terhadap Perempuan Meningkat Harianterbit.com 
Senin, 23 Juni 2014 20:25:00 WIB Ilustrasi Jakarta, HanTer 

Terjadi krisis moral dalam masyarakat baik di desa maupun perkotaan, seperti di Jakarta Barat, menjadi penyebab meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan. Dari data Kantor Pemerdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (KPMPKB) Jakarta Barat, tahun 2013 lalu tercatat ada 391 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sementara tahun ini, hingga bulan Juni telah dilaporkan 274 kasus. Jumlah tersebut diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun. Di wilayah Jakarta Barat sendiri banyak terdapat lokasi hiburan malam dan usaha pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI), tentunya memiliki potensi besar terhadap kekerasan terhadap perempuan. "Sepanjang tahun 2014 dari awal Januari-Juni ada 247 kasus kekerasan perempuan yang terjadi, dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah pada akhir tahun," ujar Nila S, Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan Kasie Pemberdayaan Perempuan dan Anak KPMPKB Jakarta Barat, Senin (23/6). Menurut Nila, sejumlah faktor pemicu terjadinya kekerasan antara lain, stres dalam rumah tangga akibat pemutusan hubungan kerja, pengangguran dan kemiskinan. Di samping itu juga karena lemahnya komitmen saat akan menikah dan perbedaan persepsi. Selain itu, kekerasan juga bisa terjadi karena preseden buruk dari orang tua yang broken home. Secara psikologis, anak dari keluarga yang sering bertengkar mengalami gangguan psikis dan tumbuh kembangnya, sehingga ketika dewasa dan menikah kemungkinan juga melakukan hal yang sama. "Kasus kekerasan terhadap perempuan, berdasarkan lokasinya, dapat dibagi menjadi tiga kategori, yakni kasus kekerasan perempuan yang terjadi rumah tangga, kekerasan di tempat hiburan malam dan kekerasan terhadap perempuan di PJTKI. Dari 247 kasus itu, 60 persen terjadi di lingkungan rumah tangga, 25 persen di tempat hiburan malam dan 15 persen terjadi di tempat usaha tenaga kerja atau penampungan TKW," papar Nila. Nila mengungkapkan, beragam cara dilakukan untuk menekan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan, misalnya dengan langkah preventif, yaitu mengajak tokoh masyarakat, kepolisian dan Pusat Pelayan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk melakukan pengawasan terhadap tempat-tempat yang dianggap rawan terjadi kasus kekerasan perempuan. "Kita akan mencegah dengan mengajak semua pihak yang ada di wilayah untuk melakukan pengawasan dan sosialisasi produk hukum yang berkaitan dengan kekerasan perempuan," pungkasnya.

TUGAS PERTEMUAN I PSIKOLOGI MANAJEMEN

Nama : Yenti Astuti Npm : 17512804 Kelas : 3PA06 Pengertian Manajemen adalah : Secara Etimologis manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno, yaitu menegement yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Sejauh ini memang belum ada kata yang mapan dan diterima secara universal sehingga pengertiaanya untuk masing-masing para ahli masih memiliki banyak perbedaan. Menurut Federick Winslow Taylor: Manajemen adalah Suatu percobaan yang sungguh-sungguh untuk menghadapi setiap persoalan yang timbul dalam pimpinan perusahaan (dan organisasi lain)atau setiap system kerjasama manusia dengan sikap dan jiwa seorang sarjana dan dengan menggunakan alat-alat perumusan. Menurut Henry Fayol: Manajemen mengandung gagasan lima fungsi utama yaitu, merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Sedangkan menurut Lyndak F. Urwick: Manajemen adalah Forecasting (meramalkan), Planning Orga-nizing (perencanaan Pengorganisiran), Commanding (memerintahklan), Coordinating (pengkoordinasian) dan Controlling (pengontrolan). Jenis-jenis Manajemen : a. Manajemen Sumber Daya Manusia : adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah. b. Manajemen Pemasaran adalah: kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana cara pemenuhannya dapat diwujudkan. c. Manajemen Produksi adalah : penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan dalam proses produksi. d. Manajemen Keuangan adalah: kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan. e. Manajemen Informasi adalah : kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat. Pengertian Psikologi Manajemen Adalah : Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. Tujuan Psikologi Manajemen Adalah : Ilmu psikologi berpusat pada manusia, dan mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan dan sebagainya dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan. KEPEMIMPINANA. Kepemimpinan Adalah : Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perilaku, pikiran, dan sikap dari sekelompok orang, baik secara langsung ataupun tidak langsung tanpa adanya paksaan dari pemimpin mereka tetapi karena mereka mau melakukannya secara sukarela. Pengertian Perencanaan yang dikemukakan oleh beberapa ahli: George P Terry: Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok. R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik: Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan Rauch dan Behling: Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Teori Kepemimpinan Adalah : Menurut Mumtord bahwa pemimpin muncul oleh kemampuan dan keterampilan yang memungkinkan dia memecahkan masalah sosial dalam keadaan tertekan, perubahan dan adaptasi. Sedangkan Murphy, menyatakan kepemimpinan tidak terletak dalam dari individu melainkan merupakan fungsi dari suatu peristiwa. PERENCANAAN Pengertian Perencanaan Perencanaan adalah rangkaian kegiatan menetapkan hal- hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang berdasarkan fakta-fakta dan pemikiran yang matang dalam jangka pencapaian tujuan yang diinginkan. Perencanaan juga merupakan pedoman dan acuan bagi para pelaksana kegiatan, agar kegiatan yang ada dapat berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan bersama. Pengertian Perencanaan yang dikemukakan oleh beberapa ahli : Douglas: Perencanaan adalah suatu proses kontinu dari pengkajian, membuat tujuan dan sasaran, dan mengimplementasikan serta mengevaluasi atau mengontrolnya Alexander: Perencanaan adalah memutuskan seberapa luas akan dilakukakan, bagaimana melakukannya, kapan melakukannya, dan siapa yang melakukannya. Steiner: Perencanaan adalah suatu proses memulai dengan sasaran-sasaran, batasan strategi, kebijakan, dan rencana detail untuk mencapainya, mencapai organisasi untuk menerapkan keputusan, dan termasuk tinjauan kinerja dan umpan balik terhadap pengenalan siklus perencanaan baru. Manfaat Perencanaan : - Perencanaan dapat membuat pelaksanaan tugas menjadi tepat dan kegiatan tiap unit akan terorganisasi menuju arah yang sama. - Perencanaan yang disusun berdasarkan penelitian yang akurat akan menghindarkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. - Perencanaan memuat standar-standar atau batas-batas tindakan dan biaya sehingga memudahkan pelaksanaan pengawasan . - Perencanaan dapat digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan, sehingga aparat pelaksana memiliki irama atau gerak dan pandangan yang sama untuk mencapai tujuan perusahaan. Jenis Perencanaan Dalam Organisasi ada 4 : 1. Perencanaan Strategis. Perencanaan strategis dianggap oleh organisasi secara keseluruhan dan dihasilkan oleh tingkat hirarki yang lebih tinggi dari sebuah organisasi. Berkaitan dengan tujuan jangka panjang dan strategi dan tindakan untuk mencapainya. Perencanaan ini merupakan proses dimana eksekutif / top manajer meramal arah jangka panjang dari suatu entitas dengan menetapkan target spesifik pada kinerja, dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal untuk melakukan tindakan perencanaan yang dipilih. Hal ini biasanya dilakukan dalam organisasi pada tingkat manajerial, atau tingkat tertinggi perintah, yang dilakukan dengan cara taktik dan prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau diberikan perencanaan jangka panjang lebih dari 5 tahun. Perencanaan strategis juga merupakan suatu hal untuk merencanakan strategi dalam segala hal, atau dalam kehidupan sehari-hari setiap orang. 2. Perencanaan Taktis / Taktik. Pada tingkat kedua dari perencanaan, taktis, kinerja berada dalam setiap area fungsional bisnis, termasuk sumber daya tertentu. Perkembangannya terjadi oleh tingkat organisasi menengah, bertujuan untuk efisiensi penggunaan sumber daya yang tersedia untuk jangka menengah proyeksi. Dalam perusahaan besar dengan mudah mengidentifikasi tingkat perencanaan, yang diberikan oleh setiap kepala bagian. Bagian taktis merupakan proses yang berkelanjutan, yang bertujuan dalam waktu dekat, merampingkan pengambilan keputusan dan menentukan tindakan. Bagian Ini dilakukan secara sistemik karena merupakan totalitas yang dibentuk oleh sistem dan subsistem, seperti yang terlihat dari sudut pandang sistemik. Apakah iteratif, dan proyek mana yang harus fleksibel dan menerima penyesuaian dan koreksi. Teknik ini memungkinkan pengukuran siklus dan evaluasi sebagai dijalankan yang secara dinamis dan interaktif dilakukan dengan orang lain, dan merupakan teknik yang mengkoordinasikan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dari efisiensi. 3. Perencanaan Operasional. Ketidakpastian yang disebabkan oleh tekanan dan pengaruh lingkungan harus berasimilasi pada pertengahan atau taktik yang harus mengkonversi dan menafsirkan keputusan strategis, tingkat tertinggi, ke dalam rencana konkrit di tengah dan membuat rencana yang akan dilakukan dan, pada gilirannya, dibagi lagi menjadi rencana operasional dan rincian yang akan dijalankan pada tingkat operasional. Karena jadwal pada tingkat operasional sesuai dengan set bagian homogen dari perencanaan taktis, yaitu, mengidentifikasi prosedur spesifik dan proses yang diperlukan di tingkat bawah organisasi, menyajikan rencana aksi atau rencana operasional. Hal ini dihasilkan oleh tingkat organisasi yang lebih rendah, dengan fokus pada kegiatan rutin perusahaan, oleh karena itu, rencana dikembangkan untuk waktu yang singkat. Perencanaan Operasional ini dilakukan pada karyawan di tingkat terendah dari organisasi. Membuat perencanaan kecil sebuah organisasi dan merinci bagaimana tujuan akan dicapai. Bahkan, semua titik dasar perencanaan terjadi di tingkat operasional, yang sangat mempengaruhi dan menentukan, bersama dengan, hasil taktik. Termasuk tugas-tugas operasional dan skema operasi yang benar dan efisien dalam menjalani sistem pendekatan reduksionis proses khas ditutup. Hal ini dilakukan berdasarkan proses diprogram dan teknik komputasi. Ini mengubah ide menjadi kenyataan, atau mengeksekusi tujuan dari suatu tindakan melalui berbagai rute, jangka pendek pekerjaan umumnya kurang dari 1 tahun. 4. Perencanaan Normatif. Mengacu pada penciptaan standar, kebijakan serta peraturan yang ditetapkan untuk operasi organisasi. Hal ini bergantung pada pembentukan standar, metodologi dan metode untuk berfungsinya kegiatan yang direncanakan. Standar-standar tentang pendirian aturan dan / atau undang-undang dan / atau kebijakan dalam setiap kelompok atau organisasi, terutama untuk menjaga pengendalian, pemantauan dan pengembangan perencanaan dan pengembangan standar dan kebijakan. Perencanaan berhubungan erat dengan desain struktur organisasi. Ini berlaku di daerah yang sangat spesifik, yang umumnya adalah mereka yang mengawasi dan menentukan aspek pada tingkat lainnya tidak dapat dipisahkan. Sumber: http://www.ut.ac.id/html/suplemen/adpu4334/w2_1_1_1.htmhttp://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126918-6642-Hubungan%20antara-Literatur.pdfJbptunikompp-gdl-yuliasrahn-15853-bab2-0001.pdf http://id.shvoong.com/business-management/management/2293395-jenis-jenis-perencanaan-dalamtingkatan-organisasi/ http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-perencanaan-apa-itu.html http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/28361/Psikologi+Manajemen+Rini.ppthttp://herugan.com/pengertian-defenisi-dan-fungsi-fungsi-manajemen

tugas pertemuan 1 psikologi manajemen

Nama : Yenti Astuti Npm : 17512804 Kelas : 3PA06 Pengertian Manajemen adalah : Secara Etimologis manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno, yaitu menegement yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Sejauh ini memang belum ada kata yang mapan dan diterima secara universal sehingga pengertiaanya untuk masing-masing para ahli masih memiliki banyak perbedaan. Menurut Federick Winslow Taylor: Manajemen adalah Suatu percobaan yang sungguh-sungguh untuk menghadapi setiap persoalan yang timbul dalam pimpinan perusahaan (dan organisasi lain)atau setiap system kerjasama manusia dengan sikap dan jiwa seorang sarjana dan dengan menggunakan alat-alat perumusan. Menurut Henry Fayol: Manajemen mengandung gagasan lima fungsi utama yaitu, merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Sedangkan menurut Lyndak F. Urwick: Manajemen adalah Forecasting (meramalkan), Planning Orga-nizing (perencanaan Pengorganisiran), Commanding (memerintahklan), Coordinating (pengkoordinasian) dan Controlling (pengontrolan). Jenis-jenis Manajemen : a. Manajemen Sumber Daya Manusia : adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah. b. Manajemen Pemasaran adalah: kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana cara pemenuhannya dapat diwujudkan. c. Manajemen Produksi adalah : penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan dalam proses produksi. d. Manajemen Keuangan adalah: kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan. e. Manajemen Informasi adalah : kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat. Pengertian Psikologi Manajemen Adalah : Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. Tujuan Psikologi Manajemen Adalah : Ilmu psikologi berpusat pada manusia, dan mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan dan sebagainya dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan. KEPEMIMPINAN. Kepemimpinan Adalah : Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perilaku, pikiran, dan sikap dari sekelompok orang, baik secara langsung ataupun tidak langsung tanpa adanya paksaan dari pemimpin mereka tetapi karena mereka mau melakukannya secara sukarela. Pengertian Perencanaan yang dikemukakan oleh beberapa ahli: George P Terry: Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok. R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik: Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan Rauch dan Behling: Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Teori Kepemimpinan Adalah : Menurut Mumtord bahwa pemimpin muncul oleh kemampuan dan keterampilan yang memungkinkan dia memecahkan masalah sosial dalam keadaan tertekan, perubahan dan adaptasi. Sedangkan Murphy, menyatakan kepemimpinan tidak terletak dalam dari individu melainkan merupakan fungsi dari suatu peristiwa. PERENCANAAN Pengertian Perencanaan Perencanaan adalah rangkaian kegiatan menetapkan hal- hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang berdasarkan fakta-fakta dan pemikiran yang matang dalam jangka pencapaian tujuan yang diinginkan. Perencanaan juga merupakan pedoman dan acuan bagi para pelaksana kegiatan, agar kegiatan yang ada dapat berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan bersama. Pengertian Perencanaan yang dikemukakan oleh beberapa ahli : Douglas: Perencanaan adalah suatu proses kontinu dari pengkajian, membuat tujuan dan sasaran, dan mengimplementasikan serta mengevaluasi atau mengontrolnya Alexander: Perencanaan adalah memutuskan seberapa luas akan dilakukakan, bagaimana melakukannya, kapan melakukannya, dan siapa yang melakukannya. Steiner: Perencanaan adalah suatu proses memulai dengan sasaran-sasaran, batasan strategi, kebijakan, dan rencana detail untuk mencapainya, mencapai organisasi untuk menerapkan keputusan, dan termasuk tinjauan kinerja dan umpan balik terhadap pengenalan siklus perencanaan baru. Manfaat Perencanaan : - Perencanaan dapat membuat pelaksanaan tugas menjadi tepat dan kegiatan tiap unit akan terorganisasi menuju arah yang sama. - Perencanaan yang disusun berdasarkan penelitian yang akurat akan menghindarkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. - Perencanaan memuat standar-standar atau batas-batas tindakan dan biaya sehingga memudahkan pelaksanaan pengawasan . - Perencanaan dapat digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan, sehingga aparat pelaksana memiliki irama atau gerak dan pandangan yang sama untuk mencapai tujuan perusahaan. Jenis Perencanaan Dalam Organisasi ada 4 : 1. Perencanaan Strategis. Perencanaan strategis dianggap oleh organisasi secara keseluruhan dan dihasilkan oleh tingkat hirarki yang lebih tinggi dari sebuah organisasi. Berkaitan dengan tujuan jangka panjang dan strategi dan tindakan untuk mencapainya. Perencanaan ini merupakan proses dimana eksekutif / top manajer meramal arah jangka panjang dari suatu entitas dengan menetapkan target spesifik pada kinerja, dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal untuk melakukan tindakan perencanaan yang dipilih. Hal ini biasanya dilakukan dalam organisasi pada tingkat manajerial, atau tingkat tertinggi perintah, yang dilakukan dengan cara taktik dan prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau diberikan perencanaan jangka panjang lebih dari 5 tahun. Perencanaan strategis juga merupakan suatu hal untuk merencanakan strategi dalam segala hal, atau dalam kehidupan sehari-hari setiap orang. 2. Perencanaan Taktis / Taktik. Pada tingkat kedua dari perencanaan, taktis, kinerja berada dalam setiap area fungsional bisnis, termasuk sumber daya tertentu. Perkembangannya terjadi oleh tingkat organisasi menengah, bertujuan untuk efisiensi penggunaan sumber daya yang tersedia untuk jangka menengah proyeksi. Dalam perusahaan besar dengan mudah mengidentifikasi tingkat perencanaan, yang diberikan oleh setiap kepala bagian. Bagian taktis merupakan proses yang berkelanjutan, yang bertujuan dalam waktu dekat, merampingkan pengambilan keputusan dan menentukan tindakan. Bagian Ini dilakukan secara sistemik karena merupakan totalitas yang dibentuk oleh sistem dan subsistem, seperti yang terlihat dari sudut pandang sistemik. Apakah iteratif, dan proyek mana yang harus fleksibel dan menerima penyesuaian dan koreksi. Teknik ini memungkinkan pengukuran siklus dan evaluasi sebagai dijalankan yang secara dinamis dan interaktif dilakukan dengan orang lain, dan merupakan teknik yang mengkoordinasikan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dari efisiensi. 3. Perencanaan Operasional. Ketidakpastian yang disebabkan oleh tekanan dan pengaruh lingkungan harus berasimilasi pada pertengahan atau taktik yang harus mengkonversi dan menafsirkan keputusan strategis, tingkat tertinggi, ke dalam rencana konkrit di tengah dan membuat rencana yang akan dilakukan dan, pada gilirannya, dibagi lagi menjadi rencana operasional dan rincian yang akan dijalankan pada tingkat operasional. Karena jadwal pada tingkat operasional sesuai dengan set bagian homogen dari perencanaan taktis, yaitu, mengidentifikasi prosedur spesifik dan proses yang diperlukan di tingkat bawah organisasi, menyajikan rencana aksi atau rencana operasional. Hal ini dihasilkan oleh tingkat organisasi yang lebih rendah, dengan fokus pada kegiatan rutin perusahaan, oleh karena itu, rencana dikembangkan untuk waktu yang singkat. Perencanaan Operasional ini dilakukan pada karyawan di tingkat terendah dari organisasi. Membuat perencanaan kecil sebuah organisasi dan merinci bagaimana tujuan akan dicapai. Bahkan, semua titik dasar perencanaan terjadi di tingkat operasional, yang sangat mempengaruhi dan menentukan, bersama dengan, hasil taktik. Termasuk tugas-tugas operasional dan skema operasi yang benar dan efisien dalam menjalani sistem pendekatan reduksionis proses khas ditutup. Hal ini dilakukan berdasarkan proses diprogram dan teknik komputasi. Ini mengubah ide menjadi kenyataan, atau mengeksekusi tujuan dari suatu tindakan melalui berbagai rute, jangka pendek pekerjaan umumnya kurang dari 1 tahun. 4. Perencanaan Normatif. Mengacu pada penciptaan standar, kebijakan serta peraturan yang ditetapkan untuk operasi organisasi. Hal ini bergantung pada pembentukan standar, metodologi dan metode untuk berfungsinya kegiatan yang direncanakan. Standar-standar tentang pendirian aturan dan / atau undang-undang dan / atau kebijakan dalam setiap kelompok atau organisasi, terutama untuk menjaga pengendalian, pemantauan dan pengembangan perencanaan dan pengembangan standar dan kebijakan. Perencanaan berhubungan erat dengan desain struktur organisasi. Ini berlaku di daerah yang sangat spesifik, yang umumnya adalah mereka yang mengawasi dan menentukan aspek pada tingkat lainnya tidak dapat dipisahkan. Sumber: http://www.ut.ac.id/html/suplemen/adpu4334/w2_1_1_1.htmhttp://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126918-6642-Hubungan%20antara-Literatur.pdfJbptunikompp-gdl-yuliasrahn-15853-bab2-0001.pdf http://id.shvoong.com/business-management/management/2293395-jenis-jenis-perencanaan-dalamtingkatan-organisasi/ http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-perencanaan-apa-itu.html http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/28361/Psikologi+Manajemen+Rini.ppthttp://herugan.com/pengertian-defenisi-dan-fungsi-fungsi-manajemen

Senin, 07 Juli 2014

HAL APA YANG MEMBUAT HUBUNGAN RUMAH TANGGA AWET?

HAL APA YANG MEMBUAT HUBUNGAN RUMAH TANGGA AWET? Yenti Astuti 2PA06 17512804 Tugas Kuliah Universitas Gunadarma Hasil wawancara dengan pasangan yang sudah menikah selama 15th yang sudah dikaruniai 3 orang anak . Menurut mereka tentu tidak mudah untuk mempertahankan sebuah hubungan yang sudah dijalani selama 15 tahun, banyak suka dan duka yang sudah dilewati bersama. Ada beberapa cara bagaimana mempertahankan pernikahan agar awet yaitu dengan adanya saling percaya, saling menyayangi, adanya saling pengertian, masing-masing saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya dan adanya komunikasi yang baik. Pada saat ada pertengkaran atau perselisihan faham mereka menyelesaikannya dengan membicarakannya baik-baik, menjelaskan maksud dan tujuan, dan diperlukan saling mengalah dalam berumah tangga, mau mengakui kesalahan dan tidak egois. Walau pasangan ini sama-sama sibuk mereka mendidik anak-anak mereka secara bersama-sama, segala permasalahan yang terjadi dibicarakan berdua dan dalam mengambil keputusan selalu dibicarakan terlebih dahulu. Jika ada kesempatan mereka mengadakan libur bersama keluarga keluarkota atau hanya sekedar menginap dihotel dalam kota,berenang dengan anak-anak,dll. Kadang tak jarang pasangan ini pergi berdua saja keluar rumah entah hanya untuk makan atau menonton film kesukaan mereka. Salah satu penguat dalam menjalani rumah tangga bagi mereka adalah kebahagiaan melihat anak-anak mereka tumbuh dengan baik. Jadi kesimpulannya adalah adanya saling percaya, saling sayang, saling pengertian,masing-masing saling menerima kekurangan dan kelebihan dan berkomunikasi dengan baik maka dapat menjaga hubungan bertahan walau banyak masalah yang telah mereka lewati dan saling menguatkan satu sama lainnya. Sekian.

Rabu, 30 April 2014

PENGEROYOKAN HINGGA TEWAS TERHADAP DUA ORANG ANGGOTA POLRES KUNINGAN

PENGEROYOKAN HINGGA TEWAS TERHADAP 2 (DUA) ORANG ANGGOTA POLRES KUNINGAN ANALISA PSIKOLOGI SOSIAL URAIAN KASUS : Pada hari senin tanggal 26 agustus 2002 terjadi pengeroyokan terhadap 2 (dua) anggota Polres Kuningan berpangkat Bripda, masing-masing Asep Irawan (24) dan Mayan Radiana (24) tewas dikeroyok massa. Salah seorang diantaranya sempat dibakar hingga hampir gosong. Peristiwa tragis ini terjadi di Desa Sindangpanji, Kecamatan Cikijing, Majalengka Jawa Barat. Almarhum Bripda Asep adalah penduduk Desa Pangkalan, Kecamatan Ciawigebang, Kuningan, yang bertugas di Satuan Lalu Lintas. Sedangkan Bripda Mayan adalah anggota Provost, penduduk Padalarang Kab. Bandung, sekujur tubuh Bripda Mayan, nyaris gosong. Kedua petugas yang tengah berpakaian preman itu, dikeroyok setelah sebelumnya dituding hendak merampok sepeda motor oleh tersangka pencuri sepeda motor yang tengah dikejar kedua petugas naas tersebut. Pengeroyokan yang berlangsung di wilayah hukum Polres Majalengka antara pukul 16.00 – 17.00 WIB. Insiden itu bermula ketika kedua polisi tersebut tengah mengejar sepeda motor yang dikendarai PLG, warga Desa Sindangpanji. PLG diduga sebagai pencuri sepeda motor. PLG dikejar dari wilayah Kuningan sampai Sindangpanji, Majalengka. Di luar perkiraan ke dua polisi naas tersebut, lanjutnya, ternyata PLG lebih dulu tiba di Sindangpanji. Dia langsung menyebar informasi bahwa dirinya sedang dikejar-kejar pencuri sepeda motor. Sehingga begitu melihat kedua petugas berpakaian preman yang berboncengan sepeda motor itu tiba di wilayah perbatasan desanya, puluhan hingga ratusan masa langsung mencegatnya. Dan tanpa banyak basa basi lagi, mereka langsung mengeroyok keduanya hingga babak belur dan jatuh tak berdaya. Ratusan masa yang sudah terprovokasi itu, bahkan terus beramai-ramai memukulinya dengan batu, potogan kayu dan bambu hingga kedua petugas itu tewas. Selain itu, aksi pembantaian masa juga diwarnai pembakaran terhadap korban Bripda Mayan. Aksi pembantaian sadis tersebut baru berakhir setelah pihak kepolisian dari Polres Majalengka dan Polres Kuningan menerjunkan puluhan petugasnya ke lokasi kejadian. Dari lokasi itu, polisi langsung menyeret 150 warga Desa Sindangpanji ke Mapolres Majalengka untuk dimintai keteranganya . Polres Majalengka sudah menangkap dan mengamankan 150 orang penduduk Desa Sindangpanji. Delapan orang diantaranya termasuk PLG yang diduga sebagai pelaku utama pembantaian itu, tertangkap. Kedua jenazah sempat divisum di rumah sakit Majalengka dan Selasa dinihari disemayamkan di Mapolres Kuningan. Selasa pagi sekira pukul 09.00 WIB kemarin, kedua jenazah telah diantarkan pihak Polres Kuningan untuk dikebumikan di alamatnya masing-masing. Pengantaran jenazah kedua polisi itu, didahului upacara pelepasan jenazah dipimpin Kapolres Kuningan AKBP Drs. Adios Salova. Sejumlah warga Desa Sindangpanji yang kebetulan tengah berada di lokasi bekas kejadian, umumnya mengaku hanya mengetahui kejadiannya saja. Namun mereka menyatakan tidak mengetahui persis pemicu maupun asal-usul masa pengeroyoknya. Ada yang menduga aksi pengeroyokan itu dipicu pula oleh kekesalan warga karena di jalan raya provinsi antara Cipasung Kuningan hingga Sindangpanji Cikijing, akhir-akhir ini sering terjadi aksi perampasan sepeda motor. Menurut informasi yang ter dengar, pada bulan-bulan tersebut, di jalur antara Cipasung-Sindangpanji sudah beberapa kali terjadi aksi perampasan sepeda motor. Bahkan diantaranya pernah terjadi di siang bolong, kata seorang warga yang enggan menyebutkan namanya. Sementara itu, Kapolda Jabar Irjen Pol Drs. Sudirman Ail, SH, MBA di Mapolda menyesalkan aksi main hakim sendiri oleh masyarakat itu. Menurut Kapolda, cara-cara penghakiman seperti itu seharusnya jangan dibiarkan terjadi karena tidak akan menyelesaikan masalah. Menjelaskan soal awal mula kejadian itu, Kapolda menduga karena dua aparatnya kurang betul dalam menerapkan taktik dan teknik penangkapan terhadap pihak yang dicurigainya. Akibatnya, mereka diteriaki oleh massa. ANALISA KASUS DAN PEMBAHASAN PSIKOLOGI Dari kasus yang telah kami paparkan diatas, akan kami ‘analisa’ dengan menggunakan beberapa teori Psikologi sebagai acuan dalam membahas dan menjawab permasalahan yang terjadi tersebut. Adapun teori-teori yang kami gunakan untuk membahas permasalah yang telah kami sampaikan diatas adalah sebagai berikut : A. “Perbuatan agresif adalah perilaku fisikTeori AGRESI (Myers-1996) atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain” Secara sepintas setiap perilaku yang merugikan atau menimbulkan korban pada pihak orang lain dapat disebut sebagai perilaku agresif. Termasuk juga yang dapat kita lihat pada permasalahan diatas, dimana perilaku penduduk/massa dari Desa Sindang Panji, Kecamatan Cikijing kabupaten Majalengka yang yang melakukan pengeroyokan hingga menewaskan 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan Jawa Barat tersebut diatas. Demikian pula pada awal mula kejadian yaitu pada saat pengeroyokan yang dilakukan dimana PLG yang langsung menyebar informasi bahwa dirinya sedang dikejar-kejar pencuri sepeda motor. Sehingga begitu melihat kedua petugas berpakaian preman yang berboncengan sepeda motor itu tiba di wilayah perbatasan desanya, puluhan hingga ratusan masa langsung mencegatnya. Dan tanpa banyak basa basi lagi, mereka langsung mengeroyok keduanya hingga babak belur dan jatuh tak berdaya , termasuk juga dalam perbuatan agresi. Secara umum, Myers (1996) membagi agresi dalam 2 (dua) jenis yaitu : 1. Agresi rasa benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression) Jenis agresi yang pertama (Hostile Aggression) ini merupakan ungkapan kemarahan dan ditandai dengan emosi yang tinggi, perilaku agresi ini adalah tujuan dari agresi itu sendiri. Jadi, agresi sebagai agresi itu sendiri. Sering disebut juga agresi jenis panas. Akibat dari jenis agresi ini tidak dipikirkan oleh pelaku dan pelaku memang tidak peduli jika perbuatannya lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat yang didapat, dan 2. Agresi sebagai sarana untuk mencapai tujuan (Instumental Aggression) Perbuatan yang dilakukan oleh penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka tersebut dapat dikategorikan kedalam jenis agresi yang pertama yaitu Agresi Rasa Benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression) yang semata-mata dilakukan untuk melampiaskan emosi terhadap 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan tersebut karena mendapat informasi dar PLG yang menurutnya sedang dikejar-kejar oleh 2 (dua) orang pencuri kendaraan bermotor, Penduduk Desa Sindang Panji tidak memikirkan akibat dari perbuatan penganiayaan yang dilakukan secara beramai-ramai tersebut (agresi-nya) terhadap 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan yang menggunakan pakaian preman tersebut, dan para penduduk Desa Sindang Panji tersebut memang tidak peduli jika perbuatannya (penganiayaan secara beramai-ramai) akan menimbulkan kerugian yang lebih banyak daripada manfaat yang didapat oleh mereka, dalam hal ini tuntutan dilakukannya terhadap pelaku. B. Teori Lingkungan yaitu Teori Frustrasi-Agresi Baru (Berkowitz, 1978-1989 dan Berkowitz & Le Page, 1967). “ Jika suatu hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan tidak dapat dimengerti alasannya maka akan timbullah Frustasi, yang akan membuat seseorang menjadi agresif ”. Pada contoh kasus diatas, timbulnya rasa frustasi dari penduduk Desa Sindang Panji kec.Cikijing kab. Majalengka Jawa Barat karena sudah terlalu seringnya terjadi pencurian (pencurian kendaraan bermotor, pencurian hewan dan pencurian dengan kekerasan, pembobolan rumah kosong) pada bulan bulan terakhir sebelum kejadian pengeroyokan diatas Sehingga karena ketidakmengertian tanpa alasan dan penjelasan yang tepat pada mereka itulah yang dapat memicu perilaku agresif dari para penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Berkowitz mengatakan bahwa “frustrasi menimbulkan kemarahan dan emosi marah, hal inilah yang dapat memicu agresi. Marah itu sendiri baru timbul jika sumber frustasi dinilai mempunyai alternatif perilaku lain dari pada perilaku yang menimbulkan frustrasi itu”. “Agresi beremosi benci tidak terjadi begitu saja (tiba-tiba), kemarahan memerlukan pancingan (cue) tertentu untuk dapat menjadi perilaku agresi yang nyata” (Berkowitz & Le Page, 1967). Sama halnya seperti yang diungkapkan oleh Myers pada teorinya tentang Agresi rasa benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression), maka hal itupun berlaku pula pada teori Berkowitz dan Le Page, bahwa frustasi yang menimbulkan kemarahan dan emosi dari para penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dapat menimbulkan/memicu agresi. Apalagi jika ditambah dengan informasi dar PLG yang menurutnya sedang dikejar-kejar oleh 2 (dua) orang pencuri kendaraan bermotor Jadi agresi beremosi rasa benci dari para penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat tidak dilakukan tiba-tiba saja, tetapi ada pancingan tertentu PLG yang menginformasikan bahwa dirinya dikejar kejar pelaku pencurian kendaraan bermotor secara nyata melakukan perbuatan/perilaku agresinya. C. Teori Pengaruh Kelompok (Staub-1996). “ Pengaruh Kelompok terhadap Perilaku Agresif, antara lain akan dapat menurunkan hambatan dari kendali moral.” Selain karena faktor ikut terpengaruh, juga karena ada perancuan tanggung jawab (tidak merasa ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai), ada desakan kelompok dan identitas kelompok (kalau tidak ikut akan dianggap bukan anggota kelompok) dan ada ‘deindividuasi’ (identitas sebagai individu tidak akan dikenal). Bila dilihat dari sisi penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang melakukan penganiayaan secara beramai-ramai terhadap para korban yaitu Bripda Asep Irawan (24) dan Bripda Mayan Radiana (24) yang menyebabkan hingga tewasnya 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan tersebut, maka dapat kita katakan bahwa kelompok mempunyai pengaruh terhadap perilaku agresif. Ketika salah satu orang saja dari penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat melakukan pengeroyokan terhadap , Bripda Asep Irawan (24) dan Bripda Mayan Radiana (24) maka penduduk lainnya (massa) yang tadinya ragu-ragu/tidak mempunyai niat untuk melakukan penganiayaan akan terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang sama seperti yang dilakukan para pelaku pencurian dengan kekerasan ( yang pada bulan – bulan terakhir sering terjadi di majalengka terhadap para korbannya ) bahkan mungkin dapat lebih kejam lagi dari perbuatan awal yang disaksikannya. Disamping faktor ikut terpengaruh, penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat juga menganggap tidak ada yang bertanggung jawab/kerancuan tanggung jawab dalam penganiayaan secara beramai-ramai/pengeroyokan tersebut (tidak merasa ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai). Juga karena adanya desakan dari para penduduk yang lain (kelompok) untuk ikut melakukan perbuatan itu, dan juga karena adanya identitas kelompok sehingga jika tidak melakukan penganiayaan secara-beramai-ramai akan dianggap bukan sebagai bagian dari penduduk . Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat Selain itu, adanya de-individuasi yang menyebabkan pemikiran dari masyarakat Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat beranggapan bahwa identitas individunya tidak akan dikenal oleh orang lain karena perbuatan yang mereka lakukan secara beramai-ramai. De-individuasi adalah keadaan hilangnya kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan pengertian evaluatif terhadap diri sendiri (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan (menjauhkan) perhatian dari individu (Festinger, Pepitone & Newcomb – 1952). D. Teori Keterpaduan Kelompok / Group Cohesiveness (Gustave Le Bon-1975). Menurut Gustave Le Bon, psikologi massa berbeda sekali dengan psikologi individual. Massa (crowd) mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan kehendak sendiri yang tidak sama dengan yang ada pada pribadi. Massa mempunyai jiwa yang tidak sama dengan jiwa pribadi. Jadi Le Bon berpendapat bahwa jiwa kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat membedakan antara kenyataan dan khayalan, serta seolah berada dibawah pengaruh hipnotis. Jika teori ini dikaitkan dengan permasalahan diatas, maka ; Pada saat sebelum terjadinya pengeroyokan yang dilakukan oleh massa dari Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat, masyarakat tersebut belum dipengaruhi oleh Psikologi massa, mereka dalam jiwa pribadinya sebagai individual dengan tetap menjalankan aktifitas sehari-hari mereka, namun dengan adanya informasi dari PLG bahwa adanya pelaku pencurian kendaraan bermotor yang dianggap telah mengganggu tatanan keamanan dan ketertiban di , Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat terlebih dengan PLG (yang menurut dirinya adalah calon korban kejahatan) adalah warga Sindang Panji, maka perbuatan tersebut memberikan aksi dari warga Desa Lubuk Ruso yang melakukan perbuatan secara massal yang irasional, implusif, agresi, dengan tidak dapat membedakan antara kenyataan dan khayalan, hal ini ditunjukkan dengan perbuatan secara massal mengeroyok 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan tersebut dan kemudian secara beramai-ramai meluapkan rasa kebencian itu dengan melakukan penganiayaan, sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia, perbuatan itu bagaikan dibawah pengaruh hipnotis. E. Teori Dinamika Kelompok yaitu Theory of Collective Behavior (NJ. Smelser-1963) Menurut Smelser, dalam perilaku massa ada tahapan-tahapan persyaratan (determinan) yang secara bertahap harus dipenuhi untuk dapat terjadinya perilaku massa. Secara logis kelima prasyarat itu berurutan. Artinya, pertama kali diperlukan adanya determinan pertama terlebih dahulu, kemudian determinan kedua menambah nilai (value added) dari determinan pertama, determinan ketiga menambah nilai determinan pertama dan kedua, dan seterusnya sehingga pada akhirnya terjadi kumulasi nilai pada determinan kelima sehingga meletus aksi itu. Determinan itu berturut-turut adalah sebagai berikut : 1. Situasi sosial (Sosial condusivenness). 2. Kejengkelan atau tekanan sosial ( Structural strain). 3. Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas (Generalized hostile belief) terhadap suatu sasaran tertentu, yang berkaitan erat dengan faktor pencetus (precipitating factor). 4. Mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action). 5. Kontrol sosial (Social control). Jika teori ini dikaitkan dengan permasalahan diatas, maka dapat dicermati sebagai berikut : 1. Dengan adanya sistem kemasyarakatan yang ada di Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dan adanya saling komunikasi antar warga yang begitu erat dan kekeluargaan, memberikan suatu ikatan kelompok yang kuat, dimana apabila ada salah satu warga yang mengalami keadaan yang dirugikan oleh orang lain diluar Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat, yang kemudian mekanisme dan sistem penyelesaian sengketa tidak dapat terakomodasi maka situasi tersebut memberikan peluang yang kondusif untuk terjadinya kerusuhan massa (Social Condusiveness). Social Condusiveness ini merupakan syarat Determinan pertama dalam teori ini. 2. Pada syarat Determinan kedua ini menambah nilai (Value added) pada Determinan pertama, hal ini ditunjukkan oleh warga Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dengan secara bersama-sama (massal) warga Desa dengan segala rasa kebencian dan frustasi melakukan tindakan agresi terhadap dengan melakukan penganiayaan secara membabi buta dan kejam, terhadap Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana (yang disangka adalah pencuri kendaraan bermotor) sehingga menyebabkan meninggalnya kedua orang tersebut, dengan tidak mempedulikan sama sekali apapun akibatnya. Hal ini merupakan luapan kejengkelan dan atau tekanan sosial (Structural strain). 3. Begitu juga pada syarat Determinan Ketiga, memberikan dukungan terhadap determinan pertama dan determinan kedua, sehingga mewujudkan berkembangnya prasangka kebencian yang meluas (Generalized hostile belief) yang terbentuk pada warga Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat terhadap para pelaku pencurian, dalam kasus tersebut dapat kita lihat dengan adanya perubahan situasi yang berkembang melalui prasangka kebencian warga terhadap Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana yang disangka adlah kawanan pelaku pencurian sehingga menjadikan faktor pencetus (Precipitating factor), menjadikan peristiwa itu mengawali dari tindakan warga untuk melakukan penganiayaan secara massal dengan tidak manusiawi. 4. Pada syarat Determinan keempat ini juga memberikan nilai tambah terhadap Determinan kesatu, kedua dan ketiga, sehingga terwujudnya determinan keempat ini berupa bentuk mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action ), Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat siap menghadapi masalah yang sewaktu-waktu akan timbul dengan bentuk pengaktualisasian aksi massa. 5. Akhirnya terbentuknya syarat Determinan kelima dimana tentunya juga determinan kelima ini menambah nilai terhadap determinan pertama, kedua, ketiga dan keempat. Determinan kelima merupakan lawan dari determinan kesatu sampai dengan keempat. Jika determinan kelima ini kuat, maka kejadian kasus tersebut diatas, tidak akan terjadi, determinan kelima ini adalah Kontrol sosial (Social control). Dalam hal ini sejauh mana aparat keamanan yang ada/bersiaga dari tingkat bawahan sampai dengan tingkat atas, dapat melakukan pengendalian situasi di atau paling tidak menghambat faktor-faktor terhadap pemenuhan determinan-determinan sebelumnya, sehingga mata rantai determinan sebelumnya dapat putus dari hubungannya. Semakin kuat Determinan Kontrol sosial ini diwilayah Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang masyarakatnya cukup dikenal keras, maka semakin kecil peluang meletusnya kerusuhan atau penganiayaan massa itu. Dengan terpenuhinya kelima syarat determinan secara berurutan dan tiap-tiap determinan menambah nilai determinan sebelumnya secara berurutan, maka Theory of Collective Behavior oleh N.J. Smelser secara analisa terpenuhi, III. KESIMPULAN Dari apa yang sudah kami paparkan diatas, maka kami dapat menarik beberapa kesimpulan terhadap kasus telah yang terjadi di Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang mengakibatkan 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan yaitu Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana meninggal dunia ialah merupakan suatu sebab dan akibat dari beberapa persoalan/kekecewaan masyarakat Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat terhadap korban yang disangka adalah pelaku pencurian sehingga terjadi luapan emosi (yang menyebabkan agresivitas massa) setelah adanya beberapa faktor pemicu, antara lain : 1. Kekesalan Warga karena sering terjadinya pencurian (curat, curas, curanmor) 2. Salah seorang warganya yaitu JPG menginformasikan bahwa dirinya menjadi calon korban pencurian kendaraan bermotor Teori-teori Psikologi yang dapat menjelaskan permasalahan seperti yang kami kemukakan pada analisa kasus diatas, antara lain : 1. Berlakunya Teori AGRESI (Myers) pada saat terjadinya pengeroyokan yang dilakukan karena ada salah seorang warga Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yaitu PLG menginformasikan bahwa dirinya menjadi calon korban pencurian kendaraan bermotor dan warga pun melakukan apa yang disebut perilaku agresi. Perbuatan yang dilakukan oleh penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dapat dikategorikan kedalam jenis agresi yang pertama yaitu Agresi Rasa Benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression) yang semata-mata dilakukan untuk melampiaskan emosi mereka terhadap2 (dua) orang anggota Polres Kuningan yaitu Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana yang disangka adalah kawanan pencuri kendararaan bermotor tersebut tidak peduli jika perbuatannya (penganiayaan secara beramai-ramai) akan menimbulkan kerugian yang lebih banyak daripada manfaat yang didapat oleh mereka. 2. Berlakunya Teori Lingkungan yaitu Teori Frustrasi-Agresi Baru (Berkowitz dan Berkowitz & Le Page), dengan timbulnya rasa frustasi dari penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat disebabkan karena sering terjadinya pencurian di desanya Agresi beremosi rasa benci dari para penduduk tidak dilakukan tiba-tiba saja, tetapi ada pancingan tertentu yaitu informasi adnya pelaku pencurian yang ‘disiarkan’ oleh PLG 3. Berlakunya Teori Pengaruh Kelompok (Staub) yang dapat terlihat dari penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang melakukan penganiayaan secara beramai-ramai terhadap para korban, maka dapat kita katakan bahwa kelompok mempunyai pengaruh terhadap perilaku agresif. Semakin besar jumlah gerombolan pelakunya, maka semakin kejam juga proses pengeroyokan dan penganiayaannya (Mullen, 1986) Mereka menganggap tidak ada yang bertanggung jawab/kerancuan tanggung jawab (karena dikerjakan beramai-ramai). Juga karena adanya desakan dari yang lain (kelompok) untuk ikut melakukan perbuatan itu, dan juga karena adanya identitas kelompok sehingga jika tidak melakukan akan dianggap bukan sebagai bagian dari mereka. Selain itu, adanya de-individuasi yang menyebabkan pemikiran mereka beranggapan bahwa identitas individunya tidak akan dikenal oleh orang lain karena perbuatan yang mereka lakukan secara beramai-ramai. 4. Berlakunya Teori Keterpaduan Kelompok/Group Cohesiveness (Gustave Le Bon) yang menyebutkan bahwa psikologi massa berbeda sekali dengan psikologi individual. Le Bon juga berpendapat bahwa jiwa kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat membedakan antara kenyataan dan khayalan, serta seolah berada dibawah pengaruh hipnotis. 5. Berlakunya Teori Dinamika Kelompok yaitu Theory of Collective Behavior (NJ. Smelser) yang menyebutkan bahwa dalam perilaku massa ada tahapan-tahapan persyaratan (determinan) yang secara bertahap harus dipenuhi untuk terjadinya perilaku massa dan ke-5 (lima) prasyarat itu harus berurutan. Determinan itu berturut-turut adalah sebagai berikut : a. Situasi sosial (Sosial condusivennes). b. Kejengkelan atau tekanan sosial ( Structural strain). c. Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas (Generalized hostile belief) terhadap suatu sasaran tertentu, yang berkaitan erat dengan faktor pencetus (precipitating factor). d. Mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action). e. Kontrol sosial (Social control). Dengan timbulnya kelima syarat determinan secara berurutan dan tiap-tiap determinan menambah nilai determinan sebelumnya, maka Theory of Collective Behavior oleh N.J. Smelser akan dapat terpenuhi, sehingga akhirnya akan dapat menyebabkan gerakan massa/perilaku massa yang bila tidak dapat terkendali bisa menimbulkan kerugian pada semua pihak. DEMIKIAN TERIMAKASIH Daftar bacaan dan referensi : 1. Sarwono, Sarlito Wirawan (1997) : Individu & Teori-Teori Psikologi Sosial. 2. Sarwono, Sarlito Wirawan (1999) : Psikologi Kelompok & Psikologi Terapan. 3. Sunarto, Kamanto (2000) : Pengantar Sosiologi (Edisi Kedua), sebagai bahan bacaan. Sumber : http://jurnalsrigunting.com/2012/01/14/analisa-psikologi-sosial-dalam-kasus-pengeroyokan-hingga-tewas-terhadap-2-dua-orang-anggota-polres-kuningan/